Matahari baru saja merangkak naik di ufuk timur Sumba, menyinari padang sabana yang mulai menguning. Namun, di Desa Kaliuda, Kecamatan Pahunga Lodu, suasana pagi itu terasa berbeda. Bukan suara deru mesin traktor atau riuh rendah aktivitas di pesisir yang terdengar, melainkan gema takbir yang bersahutan, memecah kesunyian bukit-bukit batu yang kokoh berdiri.
Idul Fitri di Kaliuda bukan sekadar perayaan keagamaan; ia adalah sebuah simfoni harmoni yang dimainkan di atas tanah Marapu.
Gema Takbir di Tengah Sabana
Kaliuda selama ini tersohor karena keindahan motif tenun ikatnya yang mendunia. Namun, saat Lebaran tiba, ada "tenunan" lain yang jauh lebih indah untuk disaksikan: tenunan persaudaraan. Di tengah mayoritas masyarakat yang memeluk Kristen dan kepercayaan Marapu, komunitas Muslim di Kaliuda merayakan hari kemenangan dengan kekhidmatan yang menyentuh hati.
Baca Juga : Sikap Adaptatif Ata Ende dalam Budaya Tau Humba
Laki-laki mengenakan baju koko bersih, sementara para perempuan tampil anggun dengan kerudung yang dipadukan selaras dengan sarung tenun ikat motif Kaliuda yang khas—dominasi warna merah dan hitam dengan figur hewan yang tegas. Mereka berjalan menuju masjid setempat, melewati deretan rumah panggung kayu yang di halamannya tertanam kubur-kubur batu megalitik.
Open House Ala Sumba
Setelah salat Id usai, dimulailah tradisi yang paling dinanti: silaturahmi tanpa sekat. Di Kaliuda, Lebaran adalah milik semua orang. Pintu-pintu rumah warga Muslim terbuka lebar bagi tetangga yang berbeda keyakinan.
Baca Juga : Cerita Toleransi dari Rumah Alang
Tak ada kecanggungan saat seorang warga penganut Marapu atau Kristen datang menjabat tangan kerabat Muslimnya sambil mengucap, "Selamat Lebaran, Umbu atau Rambu." Di atas meja, hidangan khas seperti ketupat dan opor ayam bersanding manis dengan kue-kue kering rumahan. Namun, yang paling istimewa adalah sirih pinang. Di Sumba, tidak ada percakapan yang sah tanpa pahappa atau sirih pinang. Ini adalah perekat sosial yang melampaui batas perbedaan.
Toleransi yang Mendarah Daging
Keunikan Idul Fitri di wilayah ini terletak pada kesadaran komunitas non-Muslim dalam menjaga kelancaran ibadah dan memastikan bahwa saudara mereka bisa beribadah dengan tenang.
Ini adalah manifestasi dari filosofi hidup orang Sumba yang menjunjung tinggi kekerabatan. Bagi warga Kaliuda, perbedaan agama hanyalah warna-warna benang yang berbeda dalam satu lembar kain tenun yang sama. Jika satu benang hilang, maka motif kehidupan mereka tidak akan pernah utuh.
Pesan dari Pahunga Lodu
Saat senja mulai turun dan menyisuhkan warna jingga di langit Kaliuda, perayaan Idul Fitri perlahan berganti menjadi obrolan santai di teras rumah. Lebaran di sini mengajarkan kita bahwa merayakan kemenangan tidak harus dengan kemewahan kota besar.
Baca Juga : Mengenal Keistimewaan Tenunan Kaliuda
Cukup dengan ketulusan hati, sepiring hidangan yang dibagikan, dan komitmen untuk terus menjaga kedamaian di bawah naungan langit Sumba yang luas. Dari Kaliuda, kita belajar bahwa toleransi bukan sekadar teori di buku teks, melainkan napas kehidupan yang terus diembuskan oleh masyarakatnya, hari demi hari.*



