"Bukan
karena aku tak ingin menikah," mulainya dengan suara berat yang seolah
memikul beban puluhan tahun. "Hanya saja, ada satu janji yang belum lunas.
Sebuah tanggung jawab yang tertunda oleh waktu dan ketiadaan daya di masa
lalu."
Pikirannya
melayang kembali ke masa SMA, belasan tahun silam. Masa yang seharusnya penuh
dengan tawa di koridor sekolah, namun bagi Satria, itu adalah awal dari badai
panjang. Saat itu, ia dan kekasihnya, gadis yang sangat ia cintai, melakukan
kesalahan besar. Sebuah "kecelakaan" yang membuat dunia mereka runtuh
seketika.
"Kami
dikeluarkan dari sekolah," kenangnya dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
"Tapi itu belum seberapa. Yang paling menyakitkan adalah ketika aku
berdiri di depan pintu rumahnya, mencoba menunjukkan wajah bertanggung jawab,
namun yang kuterima adalah caci maki dan kekerasan fisik dari keluarganya. Aku
dipukul, diintimidasi, dan dianggap sampah hanya karena saat itu aku hanyalah
pemuda miskin yang tak punya masa depan di mata mereka."
Keluarga
sang gadis ketakutan. Mereka melihat sosok Satria muda sebagai lubang hitam
yang akan menarik anak perempuan mereka ke dalam penderitaan bertubi-tubi.
Mereka menolak tanggung jawabnya bukan karena benci pada niatnya, tapi karena
takut pada kemiskinannya. Akhirnya, setelah melahirkan, sang gadis dikirim ke
kota yang jauh untuk melanjutkan hidup, sementara Satria ditinggalkan bersama
luka dan harga diri yang hancur.
"Aku
berjanji pada mereka, meski mereka mengusirku, aku akan tetap bertanggung jawab
dengan caraku. Aku bersumpah akan membuktikan bahwa aku bukan pria pecundang,"
bisiknya.
Tahun-tahun
berlalu. Satria berjuang seperti kesurupan. Ia belajar, bekerja serabutan,
hingga akhirnya berhasil menyelesaikan perguruan tinggi dan meraih kesuksesan
yang sekarang ia genggam. Namun, takdir adalah penulis skenario yang egois.
Gadis yang ia cintai telah menjadi istri orang lain, telah memiliki keluarga
baru, dan hidup bahagia dengan anak-anak dari pria lain.
"Lalu
bagaimana dengan darah dagingmu?" tanyaku pelan, hampir tak tega.
Satria
tersenyum tipis, sebuah senyum yang paling menyedihkan yang pernah kulihat.
"Dia ada. Dia tumbuh menjadi gadis remaja yang luar biasa cantik. Ia
dirawat oleh neneknya sejak bayi. Dan kau tahu? Setiap kali aku melihatnya,
jantungku seolah berhenti berdetak. Ia benar-benar duplikat ibunya saat kami
masih di SMA dulu."
Satria
bercerita bagaimana ia sering mencuri waktu di tengah jadwal kerjanya yang
padat hanya untuk berkendara menuju sekolah sang anak. Ia akan memarkir
mobilnya di seberang gerbang, menunggu bel pulang berbunyi, hanya demi melihat sekilas
keceriaan gadis itu dari kejauhan.
"Dia
tidak tahu aku ayahnya. Baginya, aku hanyalah orang asing yang sesekali
berpapasan di jalan dan memberinya senyum tulus. Kadang aku ingin berlari,
memeluknya, dan mengatakan bahwa akulah pria yang selama belasan tahun ini
membiayai sekolahnya diam-diam, yang selalu mendoakan keselamatannya di setiap
sujud. Tapi aku tak berdaya. Aku tak ingin merusak kebahagiaan yang sudah
tertata di keluarga ibunya."
Ada sesak
yang menjalar ke dadaku mendengar ceritanya. Satria tidak menyimpan dendam pada
mantan kekasihnya. Ia tidak menyalahkan keadaan yang dulu menghimpitnya. Ia
hanya menyesali ketidakberdayaannya di masa lalu. Kesuksesannya sekarang terasa
hambar karena ia tetap dianggap sebagai "pria tak bertanggung jawab"
oleh ingatan masa lalu yang pahit.
"Kenapa
kau belum menikah, Sat?" tanyaku lagi.
"Aku
sedang menunggu pengakuan," jawabnya mantap. "Aku tidak akan mengikat
janji dengan wanita mana pun sebelum anak gadis itu tahu siapa ayah
biologisnya. Aku hanya berharap, suatu hari nanti, ibunya sudi menjelaskan
kepadanya tentang keberadaanku. Aku hanya ingin sekali saja mendengar dia
memanggilku 'Ayah' dan memelukku. Hanya itu."
Satria
meneguk kopinya yang pahit, seolah itu adalah obat bagi hatinya yang lara.
"Jika pelukan itu sudah kudapatkan, jika ia sudah menerima kehadiranku
dalam hidupnya, barulah aku merasa tugasku selesai. Saat itulah aku akan berani
mengambil keputusan untuk menikah dan melanjutkan hidupku sendiri."
Aku
terdiam seribu bahasa. Di hadapanku bukan hanya seorang pria sukses, tapi
seorang ksatria melankolis yang menebus dosa masa mudanya dengan kesetiaan yang
luar biasa. Ia memilih hidup dalam sel penjara yang ia buat sendiri, demi
sebuah pengakuan dari jiwa yang ia cintai.
Matahari
mulai tenggelam di cakrawala, menyisakan semburat jingga yang indah namun
singkat. Sama seperti kisah Satria, sebuah keindahan yang terenggut oleh waktu,
namun tetap mekar dalam sunyi. Aku bangga mengenalnya, laki-laki yang
mengajarkanku bahwa tanggung jawab sejati tidak selalu tentang tinggal bersama,
tapi tentang menjaga dari jauh, mencintai tanpa memiliki, dan setia pada janji
meski seluruh dunia telah melupakannya.
"Dia
sudah SMA sekarang," bisik Satria sekali lagi, menutup pembicaraan kami.
"Dan dia benar-benar secantik ibunya."
Di balik
jendela kafe, aku melihat Satria berjalan menuju mobilnya. Ia akan kembali ke
rumahnya yang besar namun sepi, menunggu sebuah hari yang entah kapan akan
datang—hari di mana bayang-bayang di gerbang sekolah itu akhirnya bisa pulang
ke pelukan sang anak.*

